Tujuh Band Menguncang Kanazawa AZ Selama Stylish Wave CIRCUIT MAX '08

live report - 11.09.2008 19:00

Live report dari konser tanggal 31 Juli menampilkan SCREW, Jully, -OZ-, D=OUT, DaizyStripper, SuG, and Irokui.

Kamis, tanggal 31 Juli, satu jam sebelum pertunjukan, fans sudah banyak yang mengantri di luar Kanazawa AZ concert hall, memamerkan dandanan & pernak-pernik visualnya, sambil bersemangat membicarakan pertunjukan yang akan berlangsung. Seperti para fans yang bermacam-macam, 7 band yang akan tampil juga mewakili bermacam-macam perbedaan usia, visual style, & musik yang diperdengarkan.

SCREW

Pukul 5 sore, penonton telah berada di tempatnya, memenuhi hall sampai ke barisan belakang. Musik yang diperdengarkan adalah lagu-lagu hide, yang ditanggapi dengan semangat oleh para penonton. Tidak lama setelah itu, tirai dibuka dan memperlihatkan 5 member SCREW yang membelakangi penonton sambil mengacungkan satu tangan. Suasana di hall langsung berubah liar. Irama cepat dari lagu Death’s door membuat penonton ber-headbang serentak.

Byou sang vokalis menguasai panggung dengan vokal tajamnya, jeritannya, gerakan-gerakan agresifnya, & gaya bernyanyinya yang alternatif. Saat dia naik ke pembatas, lagu langsung berganti ke VANQUISH, yang lebih agresif lagi. Seluruh anggota band bergerak serentak ke depan, gerakannya ditirukan penonton. Yuuto dan kazuki bergantian naik ke pembatas untuk beraksi solo. Saat penonton makin tak terkontrol, Byou ditarik jatuh dari panggung ke kerumunan penonton sampai beberapa staf menariknya kembali ke atas panggung. Dia meneruskan aksinya dengan berteriak-teriak, menyebabkan penonton makin panas. Bahkan setelah lagu berakhir, penonton masih berteriak & menggeram, terbawa suasana.

Byou melakukan MC, menanyakan apakah semuanya senang, lalu meminta handuk, karena mulutnya berdarah. Seseorang dari kerumunan melemparkan handuk, yang ditanggapi Byou dengan, “Terima kasih, Kanazawa!”. Dia tampak tidak terganggu dengan lukanya, dan malah bertanya apakah penonton ingin mendengar lagu terbaru. Penonton bersorak meng-iya-kan, tapi itu tidak memuaskannya sehingga ia bertanya lagi, “Mau mendengarnya?” sampai respons penonton dirasanya cukup. Lalu lagu barunya, Wailing Wall, dimulai. Nada upbeat & optimisnya yang cepat, membuat penonton mengacungkan tangan dan ber-headbang. Di lagu itu terdapat sesi singkat solo gitar dengan suara seperti sitar, yang langsung diikuti dengan raungan gitar kazuki.

Untuk lagu terakhir, Byou menaiki pinggiran pembatas dan lagi-lagi ditarik oleh penonton. Dia berbaring di atas penonton sambil bernyanyi, tampak nyaman dalam keadaan seperti itu, sebelum akhirnya kembali ke atas panggung. S=r&b memiliki verse yang liar tapi chorus-nya memiliki melodi optimis yang indah. Dari bridge slow yang membuat penonton bergandengan tangan, lagu berubah menjadi lebih keras, ditingkahi oleh cahaya merah dari panggung. Byou berbagi mikrofon dengan Yuuto, bergantian berteriak. Pada gilirannya, Yuuto malah mencium Byou, yang disambut dengan senang oleh penonton. Penutupan lagu itu sangat keras dan kasar, seakan-akan terlalu banyak suara yang memenuhi hall. Jin memukul drumnya seperti akan menghancurkannya. Dia adalah orang terakhir yang meninggalkan panggung. Dia melemparkan botol minumnya pada penonton yang bersorak-sorak. Dan berakhirlah pertunjukan pertama malam itu, cara yang menarik untuk memulai seluruh pertunjukan.

Setlist

1. Death’s door
2. VANQUISH
-MC-
3. Wailing Wall
4. S=r&b


Jully

Band berikutnya, Jully, benar-benar berbeda dari segi penampilan, musik, dan atmosfir. Kuartet tersebut menampilkan kehangatan & keakraban. Mereka berinteraksi dengan penonton dari awal tampil. Panggung dimasuki mereka satu-persatu, berpakaian kasual hitam dan putih, diiringi suara gitar bernada jazz serta tepukan tangan penonton. Vokalisnya, Shinichirou, adalah orang terakhir yang memasuki panggung, setelah penonton mengelu-elukannya. Dari lagu awal, Birthday, Shinichirou benar-benar menghayati lagu dan memberikan penampilan terbaiknya. Gitaris Ryota dan bassist Yujiro sibuk berlarian mengelilingi panggung. Lagu itu memiliki chorus indah, yang langsung membius penonton. Saat bridge, iramanya melambat dan panggung diterangi oleh cahaya biru saat Shinichirou bernyanyi. Lama-kelamaan temponya makin cepat, dan Shinichirou mengajak penonton berseru “Oi! Oi! Oi!”. Saat lagunya berakhir, penonton berseru ingin lagi dan meneriakkan nama member favorit mereka.

Shinichirou lalu melakukan MC, berbicara dengan cepat dan bersemangat, mengeluarkan lelucon dan membuat penonton tertawa. Dia juga berbicara tentang peluncuran mini album, lalu berkata, “Pertunjukan ini berbeda. Tidak hanya visual kei tapi juga genre yang berbeda. Saya senang berada di sini, terima kasih banyak.” Lalu mereka lanjut ke lagu kedua, Kyousoukyoku, lagu dengan tempo cepat yang diwarnai aksen reggae pada bass-nya dan sedikit elemen kegilaan. Bridge-nya lebih berat dan keras. Yujiro dan Shinichirou bergantian maju dan melompat, sedangkan Ryotaro menuju pembatas untuk melakukan solo keren yang singkat. Shinichirou menyelesaikan lagu dengan membuat penonton mengangkat tangan mereka untuk melakukan gerakan-gerakan, lalu bertepuk sesuai irama.

Lagu ketiga, Bansan, merupakan paduan sempurna dari jazz dan rock yang cocok dengan imej Jully, walaupun chorus-nya lebih ke rock daripada jazz, dengan beat intens sehingga penonton seakan ikut merasakan dentumannya. Lagu ini diikuti oleh lagu rock, Shabondama, yang berirama cepat. Berat, tapi diwarnai petikan bass yang meramaikan seluruh lagu. Seluruh penonton masih di bawah kontrol Shinichirou yang memimpin mereka menari. Dengan satu gerakan tangannya, penonton berhenti menari karena lagunya berubah menjadi slow dan tenang. Makin lama tampak kalau lagu tersebut tidak murni rock, karena gitarnya terdengar reggae dan bassnya terdengar jazz. Chorusnya yang penuh semangat diakhiri dengan Shinichirou yang melakukan lompatan tinggi sebelum berseru. “Terima kasih, Kanazawa!!”

Secara keseluruhan Jully memberi kesan band yang sudah sangat berpengalaman. Tiap membernya memberikan penampilan terbaiknya. Shinichirou mengobrol dan bercanda dengan penonton, dan jelas terlihat bahwa dia adalah penyanyi yang berbakat dengan range vokal yang luas dan kontrol vokal yang baik. Dan yang terpenting adalah, melodi lagu-lagu Jully yang kreatif, indah, dan dinamis.

Setlist

1. Birthday
-MC-
2. Kyosoukyoku
3. Bansan
4. Shabondama


-OZ-

Setelah beberapa menit break, pertunjukan berikutnya dimulai. Tirai dibuka dan tiba-tiba member –OZ- dengan gaya visual mendetil pada pakaiannya, membawakan lagu pertama, Butterfly. Lagu ini merupakan lagu terbaik mereka, walaupun keras, tapi tetap berirama dan dinamis. Berlawanan dengan intro agresifnya yang melibatkan headbanging dan death vocal, chorus-nya sangat indah dan meninggalkan kesan bahkan setelah pertunjukannya berakhir. Dengan cepat terbukti bahwa member band tersebut tidak hanya mengandalkan tampang, tapi juga artis hebat yang membuat musik keren.

Semua member menyumbangkan usaha untuk membuat penonton panas. Natsuki berbaring di atas kerumunan penonton sebelum akhirnya melompat kembali ke panggung. Mereka lalu lanjut ke lagu kedua, Shangrila, tanpa jeda. Lagu itu berirama cepat dan membuat penonton ber-headbang bersama dengan member band. Chorusnya bertempo sedang, dengan melodi yang dramatis, diikuti dengan solo gitar yang agresif.

Lagu terakhir merupakan lagu yang sangat nyaring, cepat, dan liar, bahkan untuk level –OZ- sekalipun. Natsuki dan salah satu gitaris ditarik ke kerumunan penonton, sedangkan member yang lain memimpin penonton untuk serempak ber-headbang. Natsuki membuka jas dan rompinya, memamerkan perut dan dadanya pada penonton yang berebutan menyentuhnya. Sementara seluruh hall bergoyang bersamaan, Natsuki memukul-mukul perutnya dengan mikrofon. Sulit sekali untuk melepaskan pandangan dari penampilannya yang memukau. Mendekati akhir lagu, dia menjatuhkan diri ke penonton. Bassist Nao meninggalkan panggung paling akhir, berdiri di pembatas sementara penonton bersorak-sorak. Secara keseluruhan, penampilan mereka sangat enerjik, nyaring, dan berbobot. Walaupun tanpa melakukan MC, Natsuki mampu membangun keakraban dengan penonton. Dia kadang membiarkan dirinya ditarik penonton sehingga menciptakan ikatan dengan fans-nya dengan cara yang tidak semua vokalis berani melakukannya.

Setlist

1. Butterfly
2. Shangrila
3. ATHENA
4. CRY the crime


D=OUT

Setelah break beberapa menit dengan diiringi music jazz, D=OUTmemasuki panggung. Mereka tampak sangat visual, dengan pakaian yang didominasi putih dan hitam, gitaris Hikaru malah mengenakan dress. Lagu pertama, Bankoku dai Tokyo, merupakan lagu yang riang, walaupun mengandung unsur rock yang melibatkan headbang dan death vocal. Vokalis Kouki berdiri di pembatas memimpin penonton untuk mengacungkan tangannya sementara gitarisnya melakukan gerakan berputar. Lagu berikutnya menyusul, Shangrila, lagu dengan beat disco dan terkadang agresif. Member band bergerak serempak ke kiri dan ke kanan, diikuti oleh penonton. Kouki bergerak mendekati pinggir pembatas, tapi bertahan saat penonton ingin menariknya. Semua member (kecuali drummer Minase) maju ke depan panggung saat chorus terakhir. Suara drum makin cepat dan Kouki menyudahinya dengan berseru “D=OUT

Setelah break singkat yang ditanggapi dengan ketidaksabaran oleh penonton, Kouki bersahut-sahutan dengan penonton, lalu dengan member band-nya, yang membuat penonton tertawa. Dia lalu melakukan MC singkat dan lagu rock balada, Harukaze Shalala, langsung dibawakan. Suara gitar Ibuki di bagian intro sangat menonjol. Karena itu adalah lagu slow, seluruh member diam di tempatnya, seperti halnya penonton yang terbius vokal Kouki yang bernyanyi di bawah sorotan lampu biru dan putih. Jiwa lagu itu tampaknya diwakilkan oleh hentakan drum pada bagian chorus. Kouki benar-benar membawakan bagiannya dengan baik, dan lagu itu merupakan salah satu lagu terbaik malam itu.

Lagu D=OUT yang terakhir, Flashback, benar-benar kebalikannya. Koukiseakan bertransformasi, meneriakkan death vocal, dan bersahut-sahutan dengan penonton. Para gitaris dan bassist berlarian mengelilingi panggung yang diterangi lampu berwarna merah, menyemangati penonton. Tidak sepetti lagu sebelumnya, Flashback lebih cenderung keras daripada melodik, terdiri dari teriakan-teriakan yang diikuti dengan semangat oleh penonton. Kouki mencoba bertahan dari tarikan penonton, tapi dia sempat memegang tangan-tangan yang berusaha meraihnya. Memasuki chorus, tempo lagu menjadi cepat , nge-beat, dan melodik. Lagu ini diakhiri dengan banyak headbang dan teriakan, diikuti oleh penutup yang agak jazzy. Member band lalu meninggalkan panggung satu-persatu, pertama Kouki, lalu Reika, Ibuki, Hikaru, dan terakhir Minase.

Setlist

1. Bankoku dai Tokyo
2. Shangrila
-MC-
3. Harukaze Shalala
4. Flashback


DaizyStripper

Band berikutnya adalah DaizyStripper yang memasuki panggung serempak diiringi musik techno bertempo cepat. Gitaris Nao tampaknya paling populer karena mendapat sambutan paling meriah, walaupun frontman sekaligus vokalis Yu-giri adalah yang disambut paling antusias. Saat Baby Kingdom dimulai, Nao memimpin gerakan tangan penonton, dan saat musik menjadi makin agresif, Yu-giri menyuruh semua orang melompat. Bassist Rei mendekati Yu-giri dan mereka melompat bersama, dan ber-headbang bersama member lain. Yu-giri tampak bahagia dan enerjik, menebar senyuman kemana-mana. Walaupun masih berusia muda, dia tampak nyaman dalam mengontrol vokalnya. Suaranya terdengar menonjol malam itu, lebih tinggi dari kebanyakan vokalis rock lain yang juga sering melakukan banyak teriakan dan death vocal.

Berikutnya adalah Dandelion yang sudah dikenal, di mana para penonton mengangkat tangan mereka dan menggerakkannya dengan bebas. Nao tampak sangat bersemangat, melihat ke arah penonton tertentu sambil nyengir dan mengedipkan matanya. Secara umum, energi di hall itu meninggi karena lagu rock yang ceria ini, terlebih di chorus terakhir, yang diwarnai oleh headbang dan disudahi dengan teriakan Yu-giri. Saat MC, Yu-giri mengumumkan oneman band itu yang akan datang dan berseru “Rock n roll Kanazawa!!”, yang membuat penonton makin panas.

Lagu berikutnya Black DROPPer. Diwarnai oleh kilatan cahaya merah, lagu itu merupakan lagu agresif yang penuh dengan death vocal dan headbanging. Gitaris Mayu menempati pusat panggung saat verse kedua, sebelum tempatnya itu diambil alih Yu-girisaat chorus. Cahayanya berganti menjadi biru dan putih saat bagian yang lebih melodik, tapi lagu itu berakhir dengan raungan death vocal dari member lainnya yang berseru, “Oi! Oi! Oi!”.

Untuk lagu terakhir, decade, Yu-giri bersahut-sahutan dengan penonton. Suara drum berhenti sehingga suara penonton dapat terdengar lebih jelas. Walaupun intro lagu itu cepat, tapi melambat pada verse-nya, lebih terfokus pada vokal Yu-giri. Saat chorus terakhir, dia memimpin gerakan penonton dan memanas-manasinya dengan berkata “Lambat sekali, lambat sekali!”. Sementara Kazami memukul-mukul drumnya dengan bersemangat, member lainnya mendekati bibir panggung untuk menyentuh tangan penonton. Walaupun masih muda, band itu tampak telah berpengalaman. Tiap member memiliki “moment”nya masing-masing untuk berinteraksi dengan fans. Terlihat jelas bahwa penonton menikmati pertunjukan itu, dan terutama vokal keren Yu-giri.

Setlist

1. BabyKingdom
2. DANDELION
-MC-
3. Black DROPPer
4. decade


SuG

Hall telah dipenuhi suara-suara tak sabar penonton sebelum SuG memasuki panggung. Saat musik efek bernada techno dimainkan, penonton mulai bertepuk tangan, walaupun musik itu ternyata untuk DaizyStripper. Setelah musik berganti, semua member memasuki panggung bersamaan dengan kostum menyala berwarna pink, hitam, dan perak. Lagu pertama bernada catchy, LOVE SCREAM PARTY dimainkan dan penonton melompat-lompat serempak. Semua member tampak ceria, terutama Takeru yang gaya rambutnya seperti di PV Vi-Vi-Vi, mengenakan rok perak, dan tato kupu-kupu di dadanya. Chiyo lantas menempati pusat panggung untuk solo bass-nya.

Setelah menyelesaikan headbang-nya, Takeru memulai MC-nya dengan, “Selamat malam, kami DaizyStripper!” yang disambut tawa penonton. Setelah didiamkan sesaat, penonton mulai menggeram dan mengeluarkan death vocal mereka sendiri. Akhirnya Takeru berseru, “Selamat malam, kami SuG!!” yang disambut sahut-sahutan yang meriah. Dia lalu melanjutkan, “Tidak tahu siapa yang lebih kaget mendengar musik intro tadi, kami atau Yu-giri-kun. Semua member band kami berdua bernyanyi-nyanyi di belakang panggung tadi, lucu sekali.”. Dia lalu mengumumkan oneman SuG di Ebisu Liquid Room dan mini album kedua mereka, Punkitsch. Lagu berikutnya, CALL Number, bernada jazzy rock, dimana para member berlarian ke sana kemari yang ditiru penonton. Lalu tiap member berdiri di pembatas sementara Takeru menyebutkan alat musik dan penonton meneriakkan nama personelnya.

Lagu ketiga, CRIMSON SODA, merupakan lagu berat yang dipenuhi headbanging. Walaupun Takeru tersenyum seperti biasanya, tapi atmosfernya makin kasar, dan chorusnya sangat agresif walaupun masih melodik. Setelah lagu itu selesai, Takeru menyebutkan lagu terakhir Gaki sensou berasal dari mini album terbaru mereka. Di luar dugaan, lagu ini lebih berat, lebih keras, dan lebih kasar dari lagu sebelumnya. Tapi chorusnya lebih ceria dan menyenangkan. Takeru menggerakan tangannya seolah sedang melemparkan pancing dan menarik tangannya kembali diikuti penonton yang melompat seolah-oleh mereka terkait kailnya. Lagu itu berakhir dengan headbanging dan senyuman semua member. Mereka lalu menyentuh tangan penonton yang terjulur. Takeru meninggalkan panggung paling akhir dan penonton mencoba menariknya. Secara keseluruhan, pertunjukan mereka seperti yang diharapkan dari SuG – menyenangkan, musik hebat, dan penampilan yang seru – ditambah sisi tak terduga yang lebih berat dan agresif.

Setlist

1. LOVE SREAM PARTY
-MC-
2. CALL NUMBER
3. CRIMSON SODA
4. Kids War


Irokui.

Penampilan terakhir adalah dari band baru yang belum begitu dikenal Irokui. yang membuat penasaran bahkan dari intro lagu pertama mereka, dengan nada yang terdengar seperti music-box yang lalu berubah ke techno rock. Mereka memasuki panggung satu per satu, memakai busana berwarna merah, emas, dan hitam. Lagu pertama, Q Benshisu no kutsu, punya chorus sangat catchy yang membuat penonton meloncat-loncat. Diikuti oleh lagu Metorochikku birthday, rock ballad slow sekaligus keras yang melodik dari awal. Lagu ini makin cepat pada chorus tapi tetap bernada melankolis. Shuuta menyajikan solo gitar yang menyentuh, dan Yuuri menyajikan vokal berbakat, tanpa kesulitan mengeluarkan suara falcetto. Penonton menggerakkan tangannya ke depan-belakang mengikuti irama, terhanyut dalam musik.

Saat MC, Yuuri dengan main-main menanyakan penonton tentang ekspresi dalam dialek Kanazawa, dan mendapat banyak respon serta tawa penonton. Dia lalu mengumumkan mini album terbaru mereka dan pertunjukan di Tokyo Liquid Ebisu Room. Dia juga mengajari penonton untuk menari (di dalamnya termasuk membuat kelinci dengan tangan) untuk digunakan di lagu berikutnya, Alice teriaru. Setelah bersahut-sahutan, mereka lanjut ke lagu ketiga, di mana penonton menarikan gerakan yang baru mereka pelajari. Lagu itu merupakan lagu rock ceria dan sesekali Yuuri memegang tangan penonton dan menggerakkannya. Gitaris Hazuki tampak ceria dan bersemangat, memainkan gitarnya berhadapan atau memunggungi bassist Ritsu.

Lagu terakhir Sora shita sanka, lagu rock yang ceria dan melodik. Di lagu ini terdapat solo yang indah dari Ritsu dan Hazuki. Penonton bertepuk sesuai irama dan Yuuri benar-benar memberikan penampilan terbaiknya. Dia menyuruh penonton membuat tanda ‘peace’ dengan jari, menggoyangkan tangan mereka, dan mengakhirinya dengan berseru antusias, “Arigatou!!”. Secara umum musik Irokui. menekankan pada paduan melodi dan keindahan, walaupun terdapat unsur bermain-main. Tiap member tampil baik dan berusaha untuk mengadakan kontak dengan penggemar.

Setlist

1. Ku benshisu no kutsu
2. Metorochikku birthday
3. Arisu teriaru
4. Sora shita sanka

Dan begitulah, pertunjukan malam itu diakhiri dengan lagu indah dan menyentuh milik Irokui. Konser tersebut menyajikan penampilan band-band yang kontras satu sama lain. Tiap musisi memberikan penampilan terbaiknya, dan bagi para penonton, jelas merupakan pertunjukan yang tak akan mudah terlupakan.
related artists
comments
blog comments powered by Disqus
related gallery
advertisements